Deras hujan tampak dari balik jendela kelas.
Beberapa kepala orang dewasa menyembul untuk mencari anak-anak kelas satu SD yang akan dijemput.
Aku tak begitu tertarik memperhatikan siapa saja mereka yang sedang mengintip dari luar jendela.
Toh Mang Edi—bapak penarik becak langganan selalu siap menjemputku dan kakak sepulang dari sekolah.
Seketika leherku serasa dipaksa untuk menoleh.
Lalu mataku memandang siluet yang sangat kukenal tengah melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum merekah.
Ternyata ayah berada di antara barisan para penjemput.
Nampaknya Mang Edi siang itu diliburkan oleh ayah.
Aku dan kakak yang hanya terpaut satu tingkat di sekolah, ketika bertemu di luar kelas langsung menghampiri ayah dan segera bersembunyi di balik jas hujan hijau tua yang sangat lebar.
Saat motor melaju pelan, aku hanya dapat melihat ujung sepatuku dari balik jas hujan yang muat untuk menutupi kami bertiga.
Tiba di rumah, kami sudah disambut ibu dengan handuk di tangan, minuman teh hangat, dan juga menu makan siang.
Setelah menikah, aku dan suami sering menyempatkan pulang ke rumah orang tuaku karena ibu mulai sakit-sakitan.
Sekali waktu aku dan suami berencana untuk pulang dengan menggunakan bus karena tempat tinggal kami lebih dekat ke terminal daripada ke stasiun kereta.
Saat sedang bersiap-siap, tiba-tiba aku memikirkan begitu banyaknya waktu yang akan terbuang kalau kami harus ke terminal lalu menunggu penumpang lain hingga kapasitas bus penuh.
Akhirnya aku mengajak suami menggunakan motornya dengan perkiraan waktu tempuh 3-4 jam.
Suami sempat ragu karena aku tak pernah naik motor sejauh itu.
Namun aku meyakinkannya kami akan baik-baik saja.
Perjalanan hari itu begitu menyenangkan saat melewati perkebunan teh dan menikmati segarnya udara pegunungan.
Setelah tiba di rumah orang tua, sayangnya aku lebih banyak berada di kamar untuk istirahat, tidur dan kerokan.
Aku masuk angin selama dua hari berturut-turut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar