Kamis, November 11, 2021

RETJEH. Buku Kumpulan Fiksi Mini.

Berpuluh tahun rasanya saya tidak pernah berjumpa dengan kakak kelas di SMA, Mas Wishnu Giar .
Dunia literasi akhirnya mempertemukan kami kembali. 
RETJEH adalah buku beliau yang kesekian yang saya baca hingga tuntas.

Buku kumpulan fiksi mini setebal 97 halaman dengan 30 judul ini, bila saya analogikan seperti jalan hidup manusia yang akan selalu menemui peristiwa yang selalu berbeda selama 30 hari. Bahkan sepanjang hayat, tak akan ada cerita yang sama setiap harinya.

Bacaan buku ini sangat ringan dengan diksi yang mudah dipahami. Terselip pesan yang tersirat terutama bagi generasi muda yang masih panjang menapaki lika-liku kehidupan yang kadang manis atau getir.

Beragam genre diwakilkan dalam buku RETJEH ini. Ada kisah horor yang menjadi bagian pembuka di Bakso Kumis—bakso yang kelezatannya hanya dapat dirasakan oleh tokoh aku dan ibu. Sementara pada kisah Nasihat yang Terlewat—yang menyebabkan Yunus tiba-tiba saja melompat ke waktu lampau, menjadi sebuah kisah misteri bagi saya.

Pada Cerita Paman—yang sedang melakukan pendekatan pada Mirna, mampu membuat saya tersenyum simpul. 
Terselip pula kisah religi yang dialami Bintang saat di tanah suci yang diceritakan melalui Langkah Amanah

Kisah lainnya yaitu Cukup Sampai di Sini—bagaimanapun prestasi dan performa yang baik dari seorang karyawan, tetap harus mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu dapat diberhentikan dari perusahaan. 

Basa yang Basi—hampir sama dengan makna cerita Mas Windu Kakakku—kisah yang menjengkelkan bagi tokoh utama, tetapi menjadi hal yang menggelikan bagi orang-orang di luar tokoh utama.

Tak Pernah Berseberangan—lika-liku persahabatan yang baru terjalin kala usia telah senja. 

Terlambat—kisah penantian seorang anak yang merindukan untuk berjumpa dengan ayahnya. 

Seperti Hilang Kendali—kematian yang direncanakan, kadang menuntun orang untuk bersyukur agar tetap melanjutkan hidup. 

Respect—kisah seorang Damar yang mengajarkan kita agar tidak menilai orang dari penampilan luarnya.
Sepeda Istimewa—kegigihan untuk tetap mempertahankan hal yang dianggap berjasa, mampu meredam keinginan yang lain.

Ada pula kisah Mawar Merah yang mirip dengan kisah Surat-surat Tak Tersampaikan—memberikan pesan bahwa orang lain tak akan pernah tahu isi hati kita bila tak ada keberanian untuk mengutarakannya. Sedangkan jodoh yang tak disangka-sangka akan kita temui dalam kisah Just Happy And Fun.

Omah Sawah—kisah pilu akan kenangan masa kecil. 
Tanpa Selebrasi—mengingatkan kita untuk tetap rendah hati demi menghormati orang-orang yang dahulu pernah bersama dengan kita. 
Secangkir Kopi Tanpa Gula—terkadang kita begitu terpana akan cerita orang lain yang terkesan hebat menurut kacamata kita. 
Gerimis—yang membawa kenangan ke masa lalu.

Gasing Petaka—terkadang musibah justru berasal dari hal yang sangat kita sukai. 
Gagal Jahat—keadaan membuat orang gagal berbuat jahat secara fisik. Namun, dendam tetap mampu membuat orang memiliki niat berbuat jahat yang tak terbendung. Bahkan tanpa ada rasa penyesalan.

Bukan yang Lain—kemiskinan di masa kecil terkadang memacu orang untuk sukses agar dapat menjaga orang yang paling disayangi. Namun pesan dari orang yang sudah meninggal pun harus dapat dimaknai secara bijaksana 

Seratus Persen Indonesia—silsilah keluarga, domisili dan pekerjaan pada akhirnya mempengaruhi orang untuk memutuskan dari mana ia berasal.

Selembar Lima Ribuan—kebaikan sekecil apapun nilainya di masa lalu, menjadi jembatan persahabatan yang tulus dan abadi di masa mendatang.

Tentang Gusman—tak selamanya orang harus bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya.

Seandainya Mungkin—impian seorang General Assistant menjadi seorang Host.

Kelereng Bidin—dapat menjadi pelajaran hidup yang berharga kelak bila Bidin telah dewasa.

Tahun Baru Berwarna Abu—Kejadian di tahun baru yang tak direncanakan membuat tokoh aku malas untuk mengingatnya kembali.

12 Maret 1937—kisah getir ketika suku dan agama seseorang menentukan besar kecilnya nilai penghargaan.

Jersey Nomor 14—kisah inspiratif pertemuan antara Mustafa dan Pak Ratno yang menyebabkan Mustafa membatalkan niatnya untuk gantung sepatu.

Hal yang menjadi pertanyaan saya pada kisah Nasihat yang Terlewat, saya penasaran apakah memungkinkan dalam kehidupan nyata terjadi lompatan waktu karena tak mengindahkan nasihat agama?

Lalu pada kisah 12 Maret 1937, apakah tokoh aku memilih berhenti atau melanjutkan bekerja setelah tahu bahwa dirinya lah yang digaji paling rendah?.

Beberapa penulisan belum mengikuti kaidah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Kecuali bila penulis memang bertujuan buku ini untuk menjangkau berbagai kalangan agar tidak terasa terlalu formal saat membacanya.

Sukses selalu Mas Wishnu 👍.

Resensi Buku Kumpulan Fiksi Mini
Oleh: Febriyanti Dwi Safitri 
Judul: RETJEH (ISBN: 978-623-337-377-7)
Penulis: Wishnu Giar
Penerbit: Satria Indra Prasta (SIP) Publishing.
Tahun Terbit: September 2021
Jumlah Halaman: 97

#resensibuku
#isbn
#buku
#kumpulanfiksimini
#wishnugiar

Sabtu, Oktober 16, 2021

Buku Sembilan Spasi. Narasi untuk Mengalami.


Saya tergelitik untuk memiliki buku Sembilan Spasi ketika Siska Marsudhy (salah satu dari dua penulis Sembilan Spasi) memposting tentang buku ini.

Awalnya saya penasaran.

Apa maksud dari blurb di paragraph pertama yang mengatakan bahwa “Sembilan Spasi merupakan buku kerja (workbook) untuk menjalani Berkesadaran-berlatih dan sekaligus berserah untuk mengalami kondisi sebagaimana apa-adanya.”

Pagi ini buku Sembilan Spasi baru saja saya terima.

Terpana pada tulisan kecil di cover buku yang diletakkan di bawah tulisan “Sembilan Spasi” yaitu “Narasi untuk Mengalami”. Tak sabar untuk segera membuka lembar demi lembarnya untuk lebih memahami buku tentang apakah ini?.

Sekajap saya terpaku pada halaman I – 6 kala membaca tulisan “tulisaninitakterbacakarenatakberspasi”

Saya menangkap sebuah “PESAN” yang secara simbolik dapat dimaknai bahwa diri ini perlu dan penting untuk memberikan SPASI. Tubuh dan pikiran ini membutuhkan JEDA untuk rehat sejenak dalam rutinitas kehidupan yang sedang kita jalani.

Pemaknaan tentang TUBUH, PERASAAN, SIKAP, PERISTIWA, dan lain-lain DINARASIKAN dalam rentetan bait-bait yang indah.

Untuk merasakan maknanya, kita diajak untuk bermeditasi, berkontemplasi sejenak dengan mengikuti NARASI yang dituturkan.

Selanjutnya ada lembaran-lembaran kosong dalam setiap peralihan “SPASI” (BAB) yang disediakan untuk mencatat jurnal, apa saja hal yang muncul dalam benak setiap kita melihat, mendengar dan menyentuh sesuatu saat bermeditasi. Lembar jurnal kosong tersebut tak benar-benar kosong, karena disertai quotes yang ditempatkan sebagai catatan kaki (foot notes)

Tiba-tiba mata saya tertuju pada SPASI DELAPAN di halaman VIII-16 terdapat catatan kaki di lembar jurnal yang masih kosong. Tertulis beberapa kalimat

Ingin kenal diri? Sering berkarya.

Ingin lebih kenal? Rutin berbagi

Ingin kian kenal? Tanggalkan diri

Apa maknanya bagi saya? Tentu begitu mendalam.


Hari ini saya membaca buku SEMBILAN SPASI serasa tanpa “SPASI” saking penasarannya dengan buku ini secara umum.

Semoga esok saya dapat membaca perlahan untuk memaknai SPASI SATU sampai SPASI SEMBILAN, agar jurnal-jurnal tersebut tak saya kosongkan begitu saja.

Setelah lama tidak bersua dengan Siska sang penulis, saya akhirnya menemukan Siska Kembali yang saat ini menjadi Co-Founder

https://senantiasaberada.com/

https://www.instagram.com/senantiasa_berada/

dan co-owner

https://kalyanayogastudio.com/ atau https://www.instagram.com/kalyanayoga/

Sukses selalu Siska ❤️.


Jumat, Oktober 15, 2021

Opini Cerpen: Antara Den Haag dan Delft

Opini
Oleh: Febriyanti Dwi Safitri
Judul Cerpen: Antara Den Haag dan Delft
Penulis: Rilda A Oe Taneko
Ditayangkan di: https://lakonhidup.com/2013/02/03/antara-den-haag-dan-delft/
Tanggal Terbit: 3 Februari 2013

Cerpen ini menggambarkan bahwa tak semua orang yang menjadi imigran di luar negeri memiliki pekerjaan dan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan ketika mereka tinggal di negara asalnya.
Dengan mengambil latar kota di Belanda, pertemuan dua tokoh utama yaitu “Kakek” dan “Ito” yang merupakan imigran asal Indonesia, diceritakan penulis dalam adegan empat musim yang berbeda.

Pengungkapan alasan tokoh Kakek memilih menjadi seorang pekerja serabutan ketika memasuki masa tuanya yang penuh kesepian di Belanda, digambarkan secara jelas dalam dialog-dialog panjang dalam cerita. Sedangkan tokoh Ito yang hingga akhir cerita baru diketahui sebagai seorang pembersih toilet, tidak diceritakan asal muasalnya mengapa ia tinggal di Belanda hingga harus memilih pekerjaan tersebut.

Gaya bercerita penulis dengan menggunakan sub judul, begitu menarik bagi saya sebagai pembaca. Seperti memberikan petunjuk adanya sebuah “bab baru” dalam perpindahan adegan cerita. Begitu unik. Jarang ditemukan dalam cerpen-cerpen lain yang pernah saya baca.

Cerpen "Antara Den Haag dan Delft" ini seperti menyaksikan peristiwa nyata. Apakah penulisnya memang menemui peristiwa tersebut ketika beliau melanjutkan studi di Belanda? Mungkin saja.

cc: Kak KepSek Wina Wibowo Bojonegoro Kak WalKel Windy R Effendy



Covad Covid, Bungkusan Boyband dan Menunggu Kabar Baik


Wow judulnya ...

Kira-kira apa ya isinya?

Jadi ... sejarahnya buku ini berawal dari pelatihan penulisan populer bersama Afrizal Malna pada 26 Juni 2021 yang diselenggarakan oleh Perempuan Penulis Padma (Perlima).
Pelatihan penulisan ini terbuka untuk umum dan juga anggota Perlima

Lalu pada 8 Agustus 2021, keluar pengumuman nama-nama para peserta pelatihan yang naskahnya lolos kurasi.

Alhamdulillah akhir bulan ini naskah-naskah yang sudah disatukan menjadi buku telah siap untuk di-launching.

Untuk teman-teman yang ingin tahu seperti apa penulisan populer dalam buku esai ini, dapat mengikuti acara launching serta bedah buku yang akan diulas oleh seorang narasumber yang berprofesi sebagai sastrawan dan wartawan pada 30 Oktober 2021.

Untuk detail acaranya sebentar lagi menyusul ya.

Ditunggu kehadirannya 😘.


Rabu, Oktober 13, 2021

Cerita Tentang Apa?

Hujan deras telah mereda.
Meninggalkan pohon kapas yang tumbang dengan dahan yang patah-patah. 
Koy bangkit dari tidurnya. 
Mematung sejenak mengamati suasana di luar dari celah bilik rumahnya yang hampir roboh. 
Dirasakannya pusing yang tak berkesudahan. 
Napasnya masih terasa sesak. 
Begitu menyiksanya kala angin berkesiur menghantar aroma bangkai yang tak diketahui asalnya. 

Tubuh Koy yang kurus dan renta beringsut menuju dapur sambil mengenakan terompahnya. 
Lelaki itu mengambil suluh menyalakan sumbu kompor untuk menjerang air dalam ceret yang mulai berkarat. 
Cawan usang warna kecubung telah siap menanti seduhan kopi untuk menghangatkan tubuh Koy pagi ini.

Kira-kira cerita tentang apa ya teman-teman?  😀

@febriyanti_ds 

Selasa, Oktober 12, 2021

Baru Nominator


Alhamdulillah,

desain saya lolos sebagai Nominator Desain Canva untuk Hari Batik.

Dua buah desain saya yang lolos adalah desain dengan kode A2 dan C3.

Lomba Desain Canva untuk Hari Batik ini ada tiga kategori:
A. Kategori Ucapan Selamat Hari Batik https://www.instagram.com/p/CU7WJjYPhQJ/?utm_medium=copy_link
B. Kategori Quote tentang Batik
C. Kategori Filosofi Batik https://www.instagram.com/p/CU7XbBkvEFS/?utm_medium=copy_link

Saya baru lolos sebagai nominator untuk kategori A dan C.
Belum jadi pemenang loh ya teman-teman 😊.

Masih ada syarat dan ketentuan yang berlaku untuk menjadi seorang pemenang.

Infonya dapat dilihat di IG https://instagram.com/perlima.official dan juga di kanal Ngopibareng https://www.ngopibareng.id/read/nominator-desain-canva-untuk-hari-batik

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah memberikan support dan apresiasi 🙏.


Senin, Oktober 11, 2021

Kekuatan Doa Ibu

Pagi ini adikku tiba-tiba menelepon, “Mama lahirnya di mana ya?. Aku lupa. Hari ini lagi perpanjangan paspor.”

“Di Sungai Penuh. Dulu masuk Bengkulu, sekarang Jambi,” jawabku penuh keyakinan.

“Kalau tanggal lahirnya 12 Oktober kan ya?” tanya adikku lagi.

“Bukaaannn … 11 Oktober … hari ini.” Kataku walau dengan penekanan, tetap memaklumi adik lelakiku yang mulai lupa. Maklum, sudah 16 tahun kami tak menggelar acara syukuran hari lahir ibu semenjak beliau berpulang ke Rahmatullah.

Percakapan singkat pagi ini dengan adikku di hari lahir almarhumah ibu, membawa kenangan ke masa lalu. Masa kecil dan remaja kami yang begitu minim kebersamaan dengan ayah yang sering bertugas, membuat peran ibu menempati porsi yang lebih besar dalam mendidik kami.

Teringat bagaimana cara ibu menerapkan level yang berbeda-beda dalam caranya mendidik. Aku merasakan ibu menerapkan level yang sangat keras untukku. Namun ibu menerapkan level sedang pada kakak perempuanku. Sedangkan pada adik lelakiku satu-satunya, kurasakan ibu menerapkan level yang sangat ringan. Meskipun menurut ibu kasih sayang beliau sama saja untuk semua anaknya.

Ketika adikku mulai mengenal geng motor dan rokok di usia pelajar, ibu yang terkenal di keluarga besarnya sebagai sosok yang sangat keras, tegas dan disiplin, lebih memilih melangitkan doanya. Ibu tetap merangkul adikku, karena tak ingin anak lelaki satu-satunya tak memiliki masa depan.

Saat ini, sebagai kakak, kami sungguh terharu atas pencapaian adik kami. Salut akan usahanya yang pasti berjibaku keras dengan dirinya sendiri untuk lepas dari masa mudanya yang sempat membuat ibu khawatir.

Perpanjangan paspornya hari ini sepertinya untuk kembali bertugas ke negara di berbagai benua. Bukan sekadar untuk menghadiri meeting, tetapi memang tanggung jawabnya ada di sana.

Semoga hari ini ibu berbahagia mendengar bisikan hatiku, “Ma, Allah telah mengabulkan doa Mama untuk anak lelaki Mama. Si bungsu telah menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab. Dia masih tetap low profile seperti Papa. Dia pun masih mau mengendarai mobil tua peninggalan Papa, Ma."

Al-Fatihah, Mama dan Papa.
Bahagia terus ya di sana ❤️.


RETJEH. Buku Kumpulan Fiksi Mini.

Berpuluh tahun rasanya saya tidak pernah berjumpa dengan kakak kelas di SMA, Mas Wishnu Giar . Dunia literasi akhirnya mempertem...