Sabtu, Oktober 16, 2021

Buku Sembilan Spasi. Narasi untuk Mengalami.


Saya tergelitik untuk memiliki buku Sembilan Spasi ketika Siska Marsudhy (salah satu dari dua penulis Sembilan Spasi) memposting tentang buku ini.

Awalnya saya penasaran.

Apa maksud dari blurb di paragraph pertama yang mengatakan bahwa “Sembilan Spasi merupakan buku kerja (workbook) untuk menjalani Berkesadaran-berlatih dan sekaligus berserah untuk mengalami kondisi sebagaimana apa-adanya.”

Pagi ini buku Sembilan Spasi baru saja saya terima.

Terpana pada tulisan kecil di cover buku yang diletakkan di bawah tulisan “Sembilan Spasi” yaitu “Narasi untuk Mengalami”. Tak sabar untuk segera membuka lembar demi lembarnya untuk lebih memahami buku tentang apakah ini?.

Sekajap saya terpaku pada halaman I – 6 kala membaca tulisan “tulisaninitakterbacakarenatakberspasi”

Saya menangkap sebuah “PESAN” yang secara simbolik dapat dimaknai bahwa diri ini perlu dan penting untuk memberikan SPASI. Tubuh dan pikiran ini membutuhkan JEDA untuk rehat sejenak dalam rutinitas kehidupan yang sedang kita jalani.

Pemaknaan tentang TUBUH, PERASAAN, SIKAP, PERISTIWA, dan lain-lain DINARASIKAN dalam rentetan bait-bait yang indah.

Untuk merasakan maknanya, kita diajak untuk bermeditasi, berkontemplasi sejenak dengan mengikuti NARASI yang dituturkan.

Selanjutnya ada lembaran-lembaran kosong dalam setiap peralihan “SPASI” (BAB) yang disediakan untuk mencatat jurnal, apa saja hal yang muncul dalam benak setiap kita melihat, mendengar dan menyentuh sesuatu saat bermeditasi. Lembar jurnal kosong tersebut tak benar-benar kosong, karena disertai quotes yang ditempatkan sebagai catatan kaki (foot notes)

Tiba-tiba mata saya tertuju pada SPASI DELAPAN di halaman VIII-16 terdapat catatan kaki di lembar jurnal yang masih kosong. Tertulis beberapa kalimat

Ingin kenal diri? Sering berkarya.

Ingin lebih kenal? Rutin berbagi

Ingin kian kenal? Tanggalkan diri

Apa maknanya bagi saya? Tentu begitu mendalam.


Hari ini saya membaca buku SEMBILAN SPASI serasa tanpa “SPASI” saking penasarannya dengan buku ini secara umum.

Semoga esok saya dapat membaca perlahan untuk memaknai SPASI SATU sampai SPASI SEMBILAN, agar jurnal-jurnal tersebut tak saya kosongkan begitu saja.

Setelah lama tidak bersua dengan Siska sang penulis, saya akhirnya menemukan Siska Kembali yang saat ini menjadi Co-Founder

https://senantiasaberada.com/

https://www.instagram.com/senantiasa_berada/

dan co-owner

https://kalyanayogastudio.com/ atau https://www.instagram.com/kalyanayoga/

Sukses selalu Siska ❤️.


Jumat, Oktober 15, 2021

Opini Cerpen: Antara Den Haag dan Delft

Opini
Oleh: Febriyanti Dwi Safitri
Judul Cerpen: Antara Den Haag dan Delft
Penulis: Rilda A Oe Taneko
Ditayangkan di: https://lakonhidup.com/2013/02/03/antara-den-haag-dan-delft/
Tanggal Terbit: 3 Februari 2013

Cerpen ini menggambarkan bahwa tak semua orang yang menjadi imigran di luar negeri memiliki pekerjaan dan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan ketika mereka tinggal di negara asalnya.
Dengan mengambil latar kota di Belanda, pertemuan dua tokoh utama yaitu “Kakek” dan “Ito” yang merupakan imigran asal Indonesia, diceritakan penulis dalam adegan empat musim yang berbeda.

Pengungkapan alasan tokoh Kakek memilih menjadi seorang pekerja serabutan ketika memasuki masa tuanya yang penuh kesepian di Belanda, digambarkan secara jelas dalam dialog-dialog panjang dalam cerita. Sedangkan tokoh Ito yang hingga akhir cerita baru diketahui sebagai seorang pembersih toilet, tidak diceritakan asal muasalnya mengapa ia tinggal di Belanda hingga harus memilih pekerjaan tersebut.

Gaya bercerita penulis dengan menggunakan sub judul, begitu menarik bagi saya sebagai pembaca. Seperti memberikan petunjuk adanya sebuah “bab baru” dalam perpindahan adegan cerita. Begitu unik. Jarang ditemukan dalam cerpen-cerpen lain yang pernah saya baca.

Cerpen "Antara Den Haag dan Delft" ini seperti menyaksikan peristiwa nyata. Apakah penulisnya memang menemui peristiwa tersebut ketika beliau melanjutkan studi di Belanda? Mungkin saja.

cc: Kak KepSek Wina Wibowo Bojonegoro Kak WalKel Windy R Effendy



Covad Covid, Bungkusan Boyband dan Menunggu Kabar Baik


Wow judulnya ...

Kira-kira apa ya isinya?

Jadi ... sejarahnya buku ini berawal dari pelatihan penulisan populer bersama Afrizal Malna pada 26 Juni 2021 yang diselenggarakan oleh Perempuan Penulis Padma (Perlima).
Pelatihan penulisan ini terbuka untuk umum dan juga anggota Perlima

Lalu pada 8 Agustus 2021, keluar pengumuman nama-nama para peserta pelatihan yang naskahnya lolos kurasi.

Alhamdulillah akhir bulan ini naskah-naskah yang sudah disatukan menjadi buku telah siap untuk di-launching.

Untuk teman-teman yang ingin tahu seperti apa penulisan populer dalam buku esai ini, dapat mengikuti acara launching serta bedah buku yang akan diulas oleh seorang narasumber yang berprofesi sebagai sastrawan dan wartawan pada 30 Oktober 2021.

Untuk detail acaranya sebentar lagi menyusul ya.

Ditunggu kehadirannya 😘.


Rabu, Oktober 13, 2021

Cerita Tentang Apa?

Hujan deras telah mereda.
Meninggalkan pohon kapas yang tumbang dengan dahan yang patah-patah. 
Koy bangkit dari tidurnya. 
Mematung sejenak mengamati suasana di luar dari celah bilik rumahnya yang hampir roboh. 
Dirasakannya pusing yang tak berkesudahan. 
Napasnya masih terasa sesak. 
Begitu menyiksanya kala angin berkesiur menghantar aroma bangkai yang tak diketahui asalnya. 

Tubuh Koy yang kurus dan renta beringsut menuju dapur sambil mengenakan terompahnya. 
Lelaki itu mengambil suluh menyalakan sumbu kompor untuk menjerang air dalam ceret yang mulai berkarat. 
Cawan usang warna kecubung telah siap menanti seduhan kopi untuk menghangatkan tubuh Koy pagi ini.

Kira-kira cerita tentang apa ya teman-teman?  😀

@febriyanti_ds 

Selasa, Oktober 12, 2021

Baru Nominator


Alhamdulillah,

desain saya lolos sebagai Nominator Desain Canva untuk Hari Batik.

Dua buah desain saya yang lolos adalah desain dengan kode A2 dan C3.

Lomba Desain Canva untuk Hari Batik ini ada tiga kategori:
A. Kategori Ucapan Selamat Hari Batik https://www.instagram.com/p/CU7WJjYPhQJ/?utm_medium=copy_link
B. Kategori Quote tentang Batik
C. Kategori Filosofi Batik https://www.instagram.com/p/CU7XbBkvEFS/?utm_medium=copy_link

Saya baru lolos sebagai nominator untuk kategori A dan C.
Belum jadi pemenang loh ya teman-teman 😊.

Masih ada syarat dan ketentuan yang berlaku untuk menjadi seorang pemenang.

Infonya dapat dilihat di IG https://instagram.com/perlima.official dan juga di kanal Ngopibareng https://www.ngopibareng.id/read/nominator-desain-canva-untuk-hari-batik

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah memberikan support dan apresiasi 🙏.


Senin, Oktober 11, 2021

Kekuatan Doa Ibu

Pagi ini adikku tiba-tiba menelepon, “Mama lahirnya di mana ya?. Aku lupa. Hari ini lagi perpanjangan paspor.”

“Di Sungai Penuh. Dulu masuk Bengkulu, sekarang Jambi,” jawabku penuh keyakinan.

“Kalau tanggal lahirnya 12 Oktober kan ya?” tanya adikku lagi.

“Bukaaannn … 11 Oktober … hari ini.” Kataku walau dengan penekanan, tetap memaklumi adik lelakiku yang mulai lupa. Maklum, sudah 16 tahun kami tak menggelar acara syukuran hari lahir ibu semenjak beliau berpulang ke Rahmatullah.

Percakapan singkat pagi ini dengan adikku di hari lahir almarhumah ibu, membawa kenangan ke masa lalu. Masa kecil dan remaja kami yang begitu minim kebersamaan dengan ayah yang sering bertugas, membuat peran ibu menempati porsi yang lebih besar dalam mendidik kami.

Teringat bagaimana cara ibu menerapkan level yang berbeda-beda dalam caranya mendidik. Aku merasakan ibu menerapkan level yang sangat keras untukku. Namun ibu menerapkan level sedang pada kakak perempuanku. Sedangkan pada adik lelakiku satu-satunya, kurasakan ibu menerapkan level yang sangat ringan. Meskipun menurut ibu kasih sayang beliau sama saja untuk semua anaknya.

Ketika adikku mulai mengenal geng motor dan rokok di usia pelajar, ibu yang terkenal di keluarga besarnya sebagai sosok yang sangat keras, tegas dan disiplin, lebih memilih melangitkan doanya. Ibu tetap merangkul adikku, karena tak ingin anak lelaki satu-satunya tak memiliki masa depan.

Saat ini, sebagai kakak, kami sungguh terharu atas pencapaian adik kami. Salut akan usahanya yang pasti berjibaku keras dengan dirinya sendiri untuk lepas dari masa mudanya yang sempat membuat ibu khawatir.

Perpanjangan paspornya hari ini sepertinya untuk kembali bertugas ke negara di berbagai benua. Bukan sekadar untuk menghadiri meeting, tetapi memang tanggung jawabnya ada di sana.

Semoga hari ini ibu berbahagia mendengar bisikan hatiku, “Ma, Allah telah mengabulkan doa Mama untuk anak lelaki Mama. Si bungsu telah menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab. Dia masih tetap low profile seperti Papa. Dia pun masih mau mengendarai mobil tua peninggalan Papa, Ma."

Al-Fatihah, Mama dan Papa.
Bahagia terus ya di sana ❤️.


Minggu, Oktober 10, 2021

Apresiasi


Buku kisah inpiratif dari 25 Dokter Indonesia berjudul CINTA TAWA dan LUKA yang saya terima kemarin malam, adalah bentuk APRESIASI dari komunitas Perempuan Penulis Padma (Perlima) terhadap para anggotanya yang turut berpartisipasi dalam event menulis jurnal selama 30 hari di bulan September 2021.

Tadi malam saya baru sempat membaca kata pengantar buku CINTA TAWA dan LUKA dari Ikatan Dokter Indonesia Pusat yang mengatakan “Tak Mudah Menjadi Dokter Penulis”. Beliau pun mengAPRESIASI Padmedia Publisher yang berkenan menghimpun 25 kisah luar biasa ini.

Ada pula kata pengantar dari Kak Wina Wibowo Bojonegoro  sebagai founder Perlima dan juga CEO @padmedia.publisher , yang memberikan semacam “bocoran singkat” isi tulisan dari para Dokter Penulis tersebut. Pengantar dari beliau ini sangat memudahkan saya untuk memilih kisah mana yang ingin saya baca terlebih dahulu dalam buku setebal 248 halaman.

Hari ini saya baru sempat membaca cerita “Pelajaran dari Barle Hertog”, “Nafsi dan Nafsu” serta “Insight”. Masih ada 22 cerita lagi dari para Dokter Penulis yang ingin segera saya tuntaskan.

Baru membaca 3 cerita saja saya semakin menyadari bahwa Dokter juga manusia. Sama seperti saya yang pernah mengalami CINTA TAWA dan LUKA (maaf curcol ya 😀).

Oh iya … ada pula APRESIASI lainnya dari komunitas Perlima untuk para anggota yang mendapatkan buku CINTA TAWA dan LUKA ini, bahwa jurnal-jurnal kami akan dibukukan loh dalam buku yang berjudul “RUMAH BERDINDING KISAH”.

Selain itu kami akan mendapatkan bimbingan dari dua orang coach yang berpengalaman sebagai jurnalis dan penulis sastra. Mohon doa dari teman-teman semoga proses pembuatan buku “RUMAH BERDINDING KISAH” ini berjalan lancar dan menjadi BEST SELLER. Aamiin.

Menjadi bagian dari komunitas yang memiliki moto “Berdaya dan Bahagia” ini, memang selalu membuat saya terdorong untuk terus mengasah kemampuan saya tanpa melupakan kesenangan dan ketenteraman.


Sabtu, Oktober 09, 2021

Salah Satu Faktor Fresh Graduate Sulit Mendapatkan Pekerjaan.


Tanpa terasa beberapa keponakan saya sebentar lagi akan memasuki dunia kerja. Saya pun ikut sibuk mencari informasi dari teman yang menempati posisi HRD mengenai “Skill yang Harus Dimiliki Fresh Graduate.” Ternyata selain hard skill, sampai saat ini SOFT SKILL pun masih dimasukkan ke dalam persyaratan.

Untuk kemampuan hard skill, sudah tak diragukan para fresh graduate pasti telah mempersiapkan diri baik mendapatkannya dari lembaga pendidikan formal maupun non formal.

Namun untuk kemampuan soft skill yang menunjukkan kepribadian dan atribut personal, masih menjadi PR bagi fresh graduate untuk lebih menggali seperti apa dirinya akan ditampilkan saat ingin mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan.

Kebiasaan mematuhi aturan di rumah dan lembaga pendidikan,  kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, serta kemauan menempa diri dan mencari cara untuk meningkatkan soft skill, memang kembali pada individu itu sendiri.

Saya teringat ketika 1-2 tahun lalu mewawancarai beberapa calon karyawan. Beragam peristiwa unik masih terekam jelas dalam ingatan saya.

Ada yg datang terlambat 1-2 jam dari jadwal yang ditetapkan. Alasannya masih berputar-putar mencari alamat. Saya sampai bertanya apakah menggunakan google map? Apakah ada inisiatif menanyakan sebelum hari H untuk memastikan lokasi?.

Ada pula yg minta dijadwalkan ulang karena mendadak ada keperluan keluarga. Memberitahukannya pun setelah ditanya mengapa tidak hadir di waktu yang telah ditetapkan. Apakah dia berpikir bahwa hanya dia satu-satunya kandidat? Entahlah.

Lain waktu ada pula yg minta dijadwalkan ulang karena pakaian dan sepatunya basah. Apakah tak ada inisiatif membawa pakaian cadangan kala musim hujan? Adakah terbersit menggunakan toilet guna mengganti pakaian utk wawancara?

Di masa pandemi ini yang juga berdampak pada ekonomi, banyak fresh graduate mencari pekerjaan saat peluang tak banyak.
Sementara masih ada fresh graduate yg belum menyadari bahwa soft skill yang ditampilkan saat hendak wawancara telah menutup rapat kesempatannya.
Padahal hard skill yg tertuang di dalam CV-nya mampu membuat mata kita terbelalak.


Jumat, Oktober 08, 2021

Butuh Waktu Untuk Memahami


“Maaf, saya telepon balik sepuluh menit lagi ya. Telepon di sini suaranya enggak jelas.” Saya langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara. Lalu bergegas menuju ruang tertutup, di mana saya hanya seorang diri.

Segera saya hubungi kembali rekan saya tersebut. Kata-kata di seberang sana tetap tak terdengar jelas. Keringat dingin mulai bercucuran. Sebenarnya masalah bukan pada dua pesawat telepon yang telah dicoba. Namun saya memang tak dapat menangkap pembicaraan dalam logat Hong Kong dalam Bahasa Inggrisnya.

Debaran jantung saya mulai terasa cepat. Bagaimana ya caranya? Tak mungkin meminta bantuan para senior untuk ikut mendengarkan percakapan di telepon. Hanya akan memberi kesan tidak profesional. Segera saya membuat alasan lagi. “Telepon di sini sedang bermasalah. Saya akan mengirimkan pos-el pada anda. Mohon untuk segera direspon.”

Setelah pos-el terkirim, tak lama beliau langsung merespon pertanyaan saya. Ternyata hal yg dibicarakannya adalah mengenai tugas yang harus saya kerjakan. Seketika saya paham perintah kerja dalam bahasa tulisan.

Lantas saya termenung. Ketika wawancara dulu, saya menggunakan Bahasa Inggris. Saya pun sempat kursus sebentar dan selalu naik tingkat. Namun selama ini semua lawan bicara saya adalah orang Indonesia yang berlogat Amerika.

Saya merasa harus belajar lagi dari nol. Berusaha memahamai Bahasa Inggris orang Hong Kong. Setelah dua tiga kali bertemu, lambat laun saya mulai mengerti. Tak perlu lagi mencari alasan telepon saya rusak.

Saya jadi teringat cerita yang hampir sama dari bapak sopir di kantor saya dulu. Beliau pernah salah paham saat membawa atasannya, orang Singapura. Bapak sopir menyangka beliau diminta mengantar ke toko KACAMATA. Ternyata setelah dipastikan, beliau harus mengantar ke jalan GAJAH MADA. Lain waktu bapak sopir menyangka diminta mengantar ke GUDANG KASUR. Setelah kalrifikasi berulang kali terkuaklah tenyata atasannya itu minta diantar ke sebuah perusahaan yg bernama GOLDEN CASTLE.

Ternyata baik saya maupun bapak sopir, sama-sama butuh waktu untuk saling memahami Bahasa Inggris dengan logat-logat non-Amerika dari lawan bicara kami.


Kamis, Oktober 07, 2021

Satu Benda, Dua Kenangan, di Rumah yang Sama

Deras hujan tampak dari balik jendela kelas. 
Beberapa kepala orang dewasa menyembul untuk mencari anak-anak kelas satu SD yang akan dijemput. 
Aku tak begitu tertarik memperhatikan siapa saja mereka yang sedang mengintip dari luar jendela. 
Toh Mang Edi—bapak penarik becak langganan selalu siap menjemputku dan kakak sepulang dari sekolah. 

Seketika leherku serasa dipaksa untuk menoleh. 
Lalu mataku memandang siluet yang sangat kukenal tengah melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum merekah. 
Ternyata ayah berada di antara barisan para penjemput. 
Nampaknya Mang Edi siang itu diliburkan oleh ayah. 

Aku dan kakak yang hanya terpaut satu tingkat di sekolah, ketika bertemu di luar kelas langsung menghampiri ayah dan segera bersembunyi di balik jas hujan hijau tua yang sangat lebar. 
Saat motor melaju pelan, aku hanya dapat melihat ujung sepatuku dari balik jas hujan yang muat untuk menutupi kami bertiga. 

Tiba di rumah, kami sudah disambut ibu dengan handuk di tangan, minuman teh hangat, dan juga menu makan siang.

Setelah menikah, aku dan suami sering menyempatkan pulang ke rumah orang tuaku karena ibu mulai sakit-sakitan. 

Sekali waktu aku dan suami berencana untuk pulang dengan menggunakan bus karena tempat tinggal kami lebih dekat ke terminal daripada ke stasiun kereta.

Saat sedang bersiap-siap, tiba-tiba aku memikirkan begitu banyaknya waktu yang akan terbuang kalau kami harus ke terminal lalu menunggu penumpang lain hingga kapasitas bus penuh. 
Akhirnya aku mengajak suami menggunakan motornya dengan perkiraan waktu tempuh 3-4 jam.

Suami sempat ragu karena aku tak pernah naik motor sejauh itu. 
Namun aku meyakinkannya kami akan baik-baik saja. 
Perjalanan hari itu begitu menyenangkan saat melewati perkebunan teh dan menikmati segarnya udara pegunungan. 

Setelah tiba di rumah orang tua, sayangnya aku lebih banyak berada di kamar untuk istirahat, tidur dan kerokan. 
Aku masuk angin selama dua hari berturut-turut.

Rabu, Oktober 06, 2021

Pengingat


Sabtu malam 2 Oktober 2021, Pak Suami (PS) baru saja pulang sehabis membantu memoles mobil teman kantornya.

Setelah beliau bersih-bersih dan makan malam, saya mengingatkan bahwa esok pukul tujuh pagi kami sudah harus berangkat untuk bertemu dengan seseorang.

Minggu pagi PS menceritakan peristiwa Sabtu malam yg terjadi di jalan tol ketika menuju jalan pulang.
Saat itu lalu lintas dalam keadaan macet parah.
PS pun sudah menghentikan kendaraannya.
Namun tiba-tiba sebuah mobil kecepatan sedang menabrak dari arah belakang.
Alhamdulillah PS tidak mengalami cedera.
PS memilih tak langsung bercerita pada Sabtu malam, agar saya dapat tidur dengan nyenyak.

Menurut PS area kerusakan cukup parah terjadi di sekitar pintu bagasi mobil. Sementara mobil yang menabrak mengalami pecah radiator serta kap mobil yang hancur.
Sang pengemudi berusia sekitar 50-60 tahun.
Sepertinya saat kejadian beliau sedang dalam kondisi melamun. Bapak tersebut sangat kooperatif dan mengganti kerusakan meskipun nilainya tak sebanding dengan perbaikan yang harus kami lakukan tanpa asuransi.
Setelah mobil derek datang, PS beranjak pergi meninggalkan bapak tersebut.

Saya bersyukur PS tidak mengalami cedera.
Kami berusaha mengingat apakah kami lupa membayar zakat? atau belum melaksanakan nazar?.
Seingat kami semua sudah dilaksanakan.
Saat ini hanya berserah diri bahwa peristiwa tersebut menjadi PENGINGAT untuk selalu intospeksi.

Tadi malam PS memutuskan Rabu pagi akan ke bengkel langganan untuk memperbaiki pintu mobil.
Dari bengkel langsung ke kantor dengan menggunakan taksi.
Semua barang-barang di dalam mobil sudah diturunkan.

Tadi pagi ketika PS berpamitan ke bengkel, saya yang biasanya cukup riuh mengingatkan ini dan itu agar tak ada barang yang tertinggal, hanya terdiam.

Sekitar pukul sembilan pagi, PS mengabarkan telah tiba di kantor. Namun karena terburu-buru, PS lupa memakai sepatu yg tertinggal di mobil yg kini berada di bengkel.
Beliau turun dari taksi dengan mengenakan sandal, sementara harus segera menghadiri meeting. Untunglah di kantor PS masih ada sepatu cadangan.

Sepertinya mulai besok daftar PENGINGAT harus saya tambahkan satu lagi.
SEPATU.
CENTANG ✔️


RETJEH. Buku Kumpulan Fiksi Mini.

Berpuluh tahun rasanya saya tidak pernah berjumpa dengan kakak kelas di SMA, Mas Wishnu Giar . Dunia literasi akhirnya mempertem...