“Maaf, saya telepon balik sepuluh menit lagi ya. Telepon di sini suaranya enggak jelas.” Saya langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara. Lalu bergegas menuju ruang tertutup, di mana saya hanya seorang diri.
Segera saya hubungi kembali rekan saya tersebut. Kata-kata di seberang sana tetap tak terdengar jelas. Keringat dingin mulai bercucuran. Sebenarnya masalah bukan pada dua pesawat telepon yang telah dicoba. Namun saya memang tak dapat menangkap pembicaraan dalam logat Hong Kong dalam Bahasa Inggrisnya.
Debaran jantung saya mulai terasa cepat. Bagaimana ya caranya? Tak mungkin meminta bantuan para senior untuk ikut mendengarkan percakapan di telepon. Hanya akan memberi kesan tidak profesional. Segera saya membuat alasan lagi. “Telepon di sini sedang bermasalah. Saya akan mengirimkan pos-el pada anda. Mohon untuk segera direspon.”
Setelah pos-el terkirim, tak lama beliau langsung merespon pertanyaan saya. Ternyata hal yg dibicarakannya adalah mengenai tugas yang harus saya kerjakan. Seketika saya paham perintah kerja dalam bahasa tulisan.
Lantas saya termenung. Ketika wawancara dulu, saya menggunakan Bahasa Inggris. Saya pun sempat kursus sebentar dan selalu naik tingkat. Namun selama ini semua lawan bicara saya adalah orang Indonesia yang berlogat Amerika.
Saya merasa harus belajar lagi dari nol. Berusaha memahamai Bahasa Inggris orang Hong Kong. Setelah dua tiga kali bertemu, lambat laun saya mulai mengerti. Tak perlu lagi mencari alasan telepon saya rusak.
Saya jadi teringat cerita yang hampir sama dari bapak sopir di kantor saya dulu. Beliau pernah salah paham saat membawa atasannya, orang Singapura. Bapak sopir menyangka beliau diminta mengantar ke toko KACAMATA. Ternyata setelah dipastikan, beliau harus mengantar ke jalan GAJAH MADA. Lain waktu bapak sopir menyangka diminta mengantar ke GUDANG KASUR. Setelah kalrifikasi berulang kali terkuaklah tenyata atasannya itu minta diantar ke sebuah perusahaan yg bernama GOLDEN CASTLE.
Ternyata baik saya maupun bapak sopir, sama-sama butuh waktu untuk saling memahami Bahasa Inggris dengan logat-logat non-Amerika dari lawan bicara kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar